Just another free Blogger theme

Kamis, 04 Juli 2024

Om Swastyastu

berikut ini dipaparkan sejarah Desa Adat Kutri yang diperoleh dari beberapa sumber : Babad Arya Wang Bang PinatihPuri Kauhan UbudPuri Sangsi, dan PURANA WANGSA BANDESA MAS DI SAMU

Pada masa kerajaan Sukawati dipimpin oleh Ida Dewa Agung Gede Putra (1755 - 1765) Terjadi ketidak harmonisan di kalangan kerajaan sehingga adik beliau Ida Dewa Agung Made menemui Paman beliau di Mengwi kemudian membangun Puri Dalem, Dewa Agung Karang membangun Puri di Mambal, Ida Cokorda Ketut Segara membangun Puri di Sangeh.

Antara tahun 1765 sampai 1775 Ki Gusti Anglurah Agung (Raja Mengwi) pada saat itu berinisiatif agar para keponakan beliau selalu akur maka beliau mengirim surat ke Keraton Sukawati, mendapat jawaban yang tidak memuaskan sehingga Raja Mengwi menyarankan untuk menyerang Sukawati dengan meminta bantuan ke Bandung. Penyerangan berhasil, menyebabkan Raja Sukawati mengungsi di Tojan (1765 Sukawati dikuasai oleh I Gusti Munang), Dewa Agung Karang pada saat itu hanya berhasil menduduki Padang Tegal lalu Beliau membangun Puri, Setelah sekian lama Dewa Agung Karang kembali ke Mambal yang pada saat itu beliau sudah memperistri I Gusti Ayu cermin putri dari I Gusti Ngurah Bija. Kedatangan beliau justru membuat tidak senang, kemudian Mengwi mendakana serangan, sehingga mau tidak mau Ida Dewa Agung Karang harus kembali ke Padang Tegal, I Gusti Ngurah Bija mengungsi ke Tainsiat. Setelah Dewa Agung Karang mendapat pusaka di Bintang Kuskus di Pura Dalam Ungaran beliau berencana merebut Mambal kembali dengan mengutus I Wayan Mambal ke Tansiat untuk bertemu I Gusti Ngurah Bija, perjalanan kedua tokoh ini yaitu I Gusti Ngurah Bija didampingi Ida Nyoman Padang Rata dari arah selatan dan Ida Dewa Agung Karang dari arah utara bertemu di sebuah tanah yang kemudian didirikan sebuah pura yaitu diberi nama Pura Gunung saat ini, pertemuan berikutnya disepakati bahwa tidak diperlukan lagi perebutan Mambal dan senantiasa saling menjaga, di kemudian hari tempat itu didirikan sebuah yang diberi nama Pura Dalem Pejanji dan wilayahnya diberi Nama KUTRI (Ku artinya Tanah/tempat, Tri artinya 3) dari sana beliau Dewa Agung Karang mencoba membabat hutan Tapesan (Mapikayun NEGARAN Ngungsi Alas Tapesan- Menjadi Puri NEGARA), I Gusti Ngurah Bija mencari tempat di barat sungai (Jagi Jenek NEGARIN ring dauh Tukad Uwen/Wos-Menjadi Puri NEGARI), Ida Nyoman Padang Rata Mendiami Tempat di sebelah Timur kemudian diberi nama Griya Tegeh (Griya Gede). 

1778 Sukawati dapat direbut kembali, 1780-1800 Ida Dewa Agung Putra kembali ke Sukawati dari Tojan. 1805-1833 Dewa Agung Karang memimpin Puri Negara kemudian digantikan oleh Putri Tunggal Beliau yang bernama Ida Dewa Agung Ratu di tahun 1833 sampai 1847, Ida Dewa Agung Ratu wafat pada saat Putra Beliau Ida Cokorda Bima masih berumur 6 Tahun, setelah menginjak usia 12 tahun Ida Cokorda Bima diangkat menjadi Raja bergelar Ida Dewa Agung Gede Oka Karang.

Singkat cerita Kerajaan Negara hancur diserang Ubud dan Peliatan tahun 1891, semua rakyat mengungsi serta meninggalkan tempat tinggal mereka (terutama rakyat Negari, Kutri, Abasan) setelah keadaan membaik beberapa rakyat kembali mencari tempat tinggal mereka yang lama. Perlahan-lahan terbangunlah sebuah Desa yang diberi nama Desa Adat (Pekraman) Kutri. 

        Desa Adat Kutri pada masa ini terdapat beberapa kelompok warga atau wangsa dan dua wilayah yaitu Kutri dan Abasan. Pada Tahun 1995 terjadi perselisihan antar warga Banjar Kutri yaitu warga  Brahmana dengan Masyarakat Banjar Kutri, yang menyebabkan Warga Brahmana melakukan Pemekaran Menjadi Desa Adat Griya Kutri (Banjar Griya Kutri).

        Sampai saat ini Desa Adat Kutri Terdiri dari dua Banjar Adat yaitu banjar Adat Kutri dan Banjar Adat Abasan.


Om Shanti Shanti Shanti Om

Categories:


Situs Desa Adat Kutri